Puasa Tanamkan Nilai Integritas dalam Demokrasi, Sinta Febria Ningsih: Politik adalah Amanah
|
Kota Jambi – Momentum bulan Ramadan menjadi ruang refleksi untuk memperkuat nilai-nilai integritas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk dalam praktik demokrasi.
Hal tersebut disampaikan oleh Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran dan Data Informasi Bawaslu Kota Jambi, Sinta Febria Ningsih, dalam ngabuburit pengawasan Bawaslu Kota Jambi, Senin (9/3/2026).
Menurut Sinta, puasa tidak hanya mengajarkan menahan lapar dan haus, tetapi juga membentuk kesadaran spiritual bahwa setiap tindakan senantiasa diawasi oleh Allah SWT, yang dikenal dengan konsep muraqabah.
Nilai ini, kata dia, sangat relevan dalam membangun integritas, khususnya dalam dunia politik dan pengawasan pemilu.
“Puasa mengajarkan kita untuk jujur, disiplin, dan bertanggung jawab, meskipun tidak ada yang melihat. Inilah nilai integritas yang harus dibawa dalam kehidupan demokrasi,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Sinta menekankan tiga poin penting yang menjadi refleksi dari nilai puasa dalam konteks demokrasi. Pertama, politik adalah amanah.
Ia menegaskan bahwa setiap proses politik, termasuk pemilu, harus dilandasi dengan tanggung jawab moral untuk menjaga kepercayaan rakyat.
Kedua, Bawaslu sebagai wasit, sementara rakyat adalah saksi mata. Dalam hal ini, pengawasan pemilu tidak hanya menjadi tugas lembaga pengawas, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat dalam mengawal jalannya demokrasi.
“Bawaslu tidak bisa bekerja sendiri. Rakyat adalah saksi mata yang melihat langsung dinamika di lapangan,” jelasnya.
Ketiga, Bawaslu hadir untuk masyarakat. Ia menegaskan bahwa keberadaan Bawaslu bukan semata sebagai lembaga formal, tetapi sebagai bagian dari upaya memastikan hak-hak masyarakat dalam demokrasi terlindungi dan terjaga.
Lebih lanjut, Sinta menyampaikan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah puasa seharusnya mampu memperkuat kesadaran kolektif dalam menciptakan pemilu yang jujur dan adil.
Integritas yang dibangun dari kesadaran spiritual diharapkan dapat menjadi fondasi dalam setiap tindakan, baik oleh penyelenggara, peserta pemilu, maupun masyarakat.
Dengan demikian, penguatan nilai-nilai moral dan spiritual seperti yang diajarkan dalam puasa menjadi bagian penting dalam membangun demokrasi yang berintegritas, transparan, dan berpihak pada kepentingan rakyat.
Penulis : Danang Noprianto
Foto : Adry Hermawan
Editor : Adry Hermawan