Diskusi Bawaslu–Forhati Soroti Tren Pelanggaran Adaptif dan Budaya Permisif Masyarakat
|
Kota Jambi – Bawaslu Kota Jambi menggelar Diskusi Konsolidasi Demokrasi bersama MD Forhati Jambi sebagai ruang refleksi atas berbagai tantangan pengawasan pemilu saat ini, Rabu (25/2/2026).
Kegiatan ini dipimpin oleh Anggota Bawaslu Kota Jambi, Sinta Febria Ningsih.
Diskusi ini mengangkat berbagai isu strategis yang berkembang dalam dinamika pengawasan pemilu, mulai dari tren pelanggaran yang semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi hingga kompleksitas politik lokal.
Dalam forum tersebut, terungkap bahwa pelanggaran pemilu kini mengalami pergeseran pola.
Netralitas aparatur kembali menjadi sorotan, sementara pelanggaran di ruang digital menunjukkan peningkatan signifikan. Di sisi lain, praktik politik uang masih menjadi persoalan klasik yang hingga kini belum sepenuhnya dapat diberantas.
Perwakilan MD Forhati Jambi menilai bahwa di tengah berbagai tantangan tersebut, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemilu yang jujur dan adil sebenarnya terus mengalami peningkatan.
Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan keberanian untuk melapor ketika menemukan pelanggaran.
“Masih ada rasa enggan di tengah masyarakat untuk melapor, karena kekhawatiran akan konflik sosial, tekanan lingkungan, hingga ketidakpastian tindak lanjut laporan,” ungkapnya.
Fenomena ini melahirkan budaya permisif, di mana pelanggaran pemilu dianggap sebagai hal yang lumrah dan berulang.
Budaya tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang melemahkan daya cegah sosial terhadap berbagai bentuk pelanggaran pemilu.
Menanggapi hal tersebut, Bawaslu Kota Jambi menegaskan pentingnya membangun kesadaran kolektif dan keberanian masyarakat untuk terlibat aktif dalam pengawasan. Partisipasi publik menjadi kunci dalam menciptakan pemilu yang berintegritas.
Melalui diskusi konsolidasi demokrasi ini, diharapkan sinergi antara Bawaslu dan berbagai elemen masyarakat semakin kuat dalam menghadapi tantangan pengawasan ke depan.
Demokrasi yang kuat, tidak hanya lahir dari sistem yang baik, tetapi juga dari keberanian masyarakat untuk peduli dan bertindak.