Lompat ke isi utama

Berita

Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Menjaga Bumi, Menjaga Demokrasi

Infografis

Infografis

Kota Jambi — Setiap tanggal 5 Juni, dunia memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day) sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran dan aksi nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan. Tahun 2026, peringatan ini mengusung tema global “Inspired by Nature. For Climate. For Our Future” dengan kampanye #NowForClimate, sementara di Indonesia mengangkat tema “Saatnya Bekerja untuk Iklim”. 

Tema ini mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak berhenti pada kesadaran semata, tetapi bergerak dalam aksi nyata menghadapi perubahan iklim.

Lingkungan yang sehat bukan hanya tentang udara bersih, air yang layak, atau ruang hijau yang terjaga. Lebih dari itu, lingkungan yang sehat juga menjadi fondasi bagi terciptanya kehidupan sosial yang adil, inklusif, dan berkelanjutan, nilai yang sejalan dengan prinsip demokrasi.

Sebagai lembaga pengawas pemilu, Bawaslu mungkin tidak secara langsung bergerak di sektor lingkungan hidup. Namun, nilai-nilai yang diperjuangkan dalam pelestarian lingkungan memiliki keterkaitan erat dengan peran Bawaslu dalam menjaga demokrasi.

Demokrasi yang sehat membutuhkan ekosistem yang sehat. Sebagaimana lingkungan yang rusak dapat mengganggu keberlangsungan hidup manusia, demokrasi yang tercemar oleh pelanggaran, politik uang, disinformasi, dan ketidakadilan juga dapat merusak kualitas kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam konteks ini, peran Bawaslu adalah menjaga “ekosistem demokrasi” agar tetap bersih, adil, dan berintegritas. Bawaslu hadir untuk melakukan, pencegahan pelanggaran, pengawasan tahapan pemilu, penanganan pelanggaran, penyelesaian sengketa proses pemiluPeran tersebut sejatinya memiliki semangat yang serupa dengan gerakan pelestarian lingkungan, yakni mencegah kerusakan sebelum dampaknya semakin besar. 

Jika dalam isu lingkungan kita diajak untuk mengurangi polusi, mengelola sampah, dan menekan emisi karbon, maka dalam demokrasi masyarakat juga diajak untuk mengurangi “polusi demokrasi” berupa: hoaks  ujaran kebencian, politik uang, penyalahgunaan kekuasaan.

Semua bentuk “polusi” tersebut dapat merusak kualitas pemilu dan menurunkan kepercayaan publik terhadap demokrasi.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia juga mengingatkan pentingnya partisipasi kolektif. Menjaga lingkungan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Demikian pula menjaga demokrasi tidak bisa hanya menjadi tugas Bawaslu.

Pengawasan pemilu membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemilih pemula, mahasiswa, akademisi, organisasi masyarakat, media, hingga komunitas digital. Inilah yang disebut sebagai pengawasan partisipatif, yakni keterlibatan aktif masyarakat dalam mengawal proses demokrasi.

Melalui momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Bawaslu Kota Jambi mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga dua hal penting bagi masa depan bangsa: lingkungan yang lestari dan demokrasi yang berintegritas.

Karena pada akhirnya, bumi yang sehat dan demokrasi yang sehat sama-sama membutuhkan kepedulian, tanggung jawab, dan aksi nyata dari kita semua.

Menjaga lingkungan adalah investasi bagi masa depan bumi. Menjaga demokrasi adalah investasi bagi masa depan bangsa.

Foto : Istimewa

Penulis : Danang Noprianto

Editor : Adry Hermawan